Wednesday, May 10, 2017

Beat the Microbeads: Mengapa Menjauhi Microbeads? (Part 1/2)


Kalau kamu pernah menggunakan scrub atau sabun yang memiliki butiran halus seperti pada scrub, kemungkinan kamu pernah berkontribusi terhadap limbah microbeads ke alam. Wait, what? Apa sih microbeads itu? Nih, aku kutipin dari Wikipedia:



Yak, betul sekali! Butiran-butiran halus pada produk tersebutlah yang mungkin merupakan microbeads. Nggak semuanya sih, ada juga yang dari bahan alami, seperti bijih aprikot atau bubuk kopi, namun, ada juga yang dibuat dari plastik berukuran mikro.  Kalau bahannya alami, tidak begitu masalah. Nah, kalau bahannya plastik, microbeads ternyata berbahaya buat lingkungan dan ekosistemnya, lho! Bahkan, karena kebahayaannya ini, di beberapa negara seperti Kanada, Amerika Serikat, Britania Raya dan Belanda produk-produk sudah dilarang menggunakan microbeads.

Ada beberapa alasan mengapa negara-negara tersebut melarang penggunaan microbeads dalam produk, terutama yang bila dibilas akan mengalir ke sistem pengelolaan air dan/atau ke badan air di alam bebas. Intinya, microbeads menyebabkan permasalahan yang serius!

Ini nih jumlah microbeads per botol kosmetik!
Pertama, dengan ukurannya yang sangat kecil, mencegah microbeads agar tidak masuk ke aliran air sangatlah sulit. Microbeads yang digunakan saat mandi akan terbilas langsung ke sistem pengelolaan limbah, dan tidak ada filter yang cukup kecil untuk menyaringnya.

Kedua, sebagai plastik, microbeads menyebabkan pencemaran partikel plastik ketika masuk ke badan air secara terus menerus tanpa bisa dicegah. Di beberapa perairan di negara di atas, microbeads terakumulasi di badan air, baik di permukaan, kolom air maupun dasar. Sebuah studi oleh State University of New York menemukan bahwa 1.500 – 1,5 juta microbeads per meter persegi ditemukan di permukaan Great Lakes di Amerika Serikat.

Ketiga, hal ini menyebabkan permasalahan turunan terhadap ekosistem, khususnya terhadap ikan yang hidup di ekosistem perairan yang tercemar microbeads. Sebuah studi menemukan anak-anak ikan perch, sebuah spesies ikan air tawar, ketika menetas ternyata memilih untuk memakan microbeads dibandingkan makanan alaminya. Selain itu, karena ukurannya sangat kecil, ikan dewasa pun kadang memakannya secara tidak sengaja, yang kemudian menetap di badannya dan meluas melalui rantai makanan.

Keempat, microbeads ternyata juga menyerap bahan kimia lain, sehingga dampak di ikan menjadi lebih parah, bahkan bisa berdampak hingga ke manusia. Microbeads bisa menyerap dan mengkonsentrasikan polutan seperti pestisida dan polycyclic hydrocarbons, yang keduanya bersifat persisten dan berbahaya bagi kesehatan.

Sudah males kan menggunakan microbeads? Ayo kita berhenti pakai produk-produk yang mengandung microbeads. Masalahnya, produk yang mengandung microbeads ini masih beredar dengan luas di Indonesia. Jadi, gimana dong supaya kita bisa menghindari produk-produk microbeads?
Simak di postinganku selanjutnya yaa!

Bersambung ke Part 2/2: Bagaimana Menjauhi Produk yang Mengandung Microbeads?

Saturday, May 6, 2017

Sambil Menyelam, Mulung Sampah di Laut! (Part 1/2)



Sebenernya saya bingung, karena tema #1minggu1cerita minggu ini adalah “RINDU,” tapi kan saya gak bakat banget posting yang puitis-puitis manis gitu ya (kecuali kalau #importedfromsecret lagi bikin lirik atau puisi sih). Lebih bingung lagi, sebenarnya saya lagi girang dan pengen nulis kegiatan seru yang barusan saya ikuti, yaitu acara (yang katanya diinisiasi) Kemenko Maritim untuk memperingati Hari Bumi 2017: Underwater Clean-up Kepulauan Seribu. Bahasa kampungnya, mulung sambil nyelem.

Jadi, apa hubungannya kegiatan mulung bawah air ini dengan rindu ya? Karena sebaiknya saya hubung-hubungkan, jadi saya simpulkan aja deh bahwa sepertinya saya lagi rindu kegiatan-kegiatan volunteering berbasis komunitas seperti ini. Ketemu teman-teman baru yang seru, dapat cerita-cerita yang menginspirasi, dan belajar hal-hal baru! Belum lagi kalau ngomongin kepuasan batin! Kurang seru apa coba?

Foto drone lokasi acara di Pulau Karya. Photo: Rendy
Nah, kebetulan lagi, udah cukup lama nih saya nggak mengikuti kegiatan volunteering. Lalu suatu hari saya dengarlah perihal kegiatan mulung sambil nyelem ini. Saya tahu dari dua sumber: pertama, teman yang baru saya kenal dari acara YSEALI, Gene; kedua, di saat yang bersamaan dari teman di grup Whatssap geng persampahan #TolakBakarSampah, Sonia. Intinya, siapapun sumbernya, saya tahu ini dari Whatssap berantai. Yuk kita intip penyelenggaraan kegiatan ini!

Pendaftaran!
Waktu daftar, sempat ketar-ketir karena saya mendaftar secara pribadi, sementara dalam pesan berantai disyaratkan pendaftaran lewat dive center. Sayangnya, dive center saya, Java Scuba, tidak mengikuti kegiatan ini. Untung saja PJ Pendaftaran yang saya hubungi, Firli, sangat akomodatif. Tanpa kesulitan, saya diminta mengirim nomor KTP dan sertifikat selam saja. Formulir liability release akan disediakan oleh panitia di titik kumpul. Horeeee!



Briefing peserta di KM Mitra Utama
Persiapan alat
Sebagaimana ketentuan yang disampaikan, panitia akan menyiapkan tanki dan pemberat, sementara alat lainnya (BCD, regulator, fin, mask) harus dibawa sendiri oleh peserta. Kebetulan, sobat kecilku si Budi kecil duduk menggigil sedang jalan-jalan ke Nepal, dan menitipkan (sembari menghibahkan sementara) seperangkat alat diving kepada saya. Yeay! Di malam hari H-1 saya baru menyadari bahwa BCD dalam seperangkat alat Budi entah di mana. Maka paniklah saya menghubungi CP yang diberikan panitia jam 9 malam, yang bernama Pak Rahmat (Ody Dive, 085715649956). Untungnya Pak Rahmat menyanggupi “membantu,” walaupun belum mengkonfirmasi pasti ada. Sampai besoknya, berdasarkan wejangan instruktur kami, Bang Ricky Colo, barulah saya meminta Pak Rahmat untuk memastikan barang sewaan saya, sebuah BCD, tersedia. Harganya murah lho, Rp 60.000,- saja per hari untuk BCD, kalau satu set (BCD, regulator, fin, mask, pemberat) hanya Rp 215.000,- Walaupun dengan sedikit ketidakpastian dan koordinasi yang agak alot (jadi ceritanya Pak Rahmat ini agak sulit ditelepon), akhirnya saya mendapatkan BCD saya di hari Jum’at, lalu saya kembalikan hari Sabtu. Tapi Pak Rahmat menghitungnya sehari (Rp 60.000,-), lho, padahal Jum’atnya saya pakai diving juga! Hoki memang tak pernah bohong ya.

Lokasi mulung
Lokasi mulung ada di beberapa titik: Pulau Pramuka, Pulau Karya dan Pulau Panggang. Kayaknya ada juga yang di Pulau Harapan sih, tapi nggak tahu jadi atau nggak. Untuk penginapan, disediakan Kemenko Maritim di Pulau Karya (yang katanya horor itu), dengan satu kamar menampung 4 (empat) orang. Menurut Mba Cherry, PIC dari Kemenko Maritim, air kran di Pulau Karya bisa langsung diminum. Saya minum beneran dong! Eh, ternyata nggak ada yang mempercayai beliau, dan kayaknya nggak satupun orang selain saya yang minum langsung air itu. Hahahaha. Anyway, kamar teman-teman juga ada yang AC-nya mati. Alhasil, kamar yang harusnya diisi 4 (empat) jadi diisi 6 (enam) deeeh. Nggak apa-apa sih, anget (soalnya AC dingin, tapi ngga ada selimut huhu).

Pusaran sampah dalam perjalanan kami ke Pulau Pramuka. Photo by: Rendy



Plastik-plastik menyambut kedatangan kami di P. Pramuka

Transportasi
Sebenarnya antara oke dan nggak nih transportasinya. Okenya, karena gratis, ditanggung penuh sama Kemenko Maritim. Nggak okenya, kami naik kapal yang nggak jelas dan diganti-ganti sampai H-1. Kapal kedua bahkan kelihatan horor banget pas dicek identitasnya. Kapal ketiga yang akhirnya kami gunakan, KM Mitra Utama, adalah kapal navigasi yang bergerak dengan kecepatan 7-8 knot. Ini lambaaaaat banget, kayak sloth deh geraknya slow motion. Terus, ngga ada ruangan indoor, jadi sepanjang perjalanan kami nongkrong di lantai-lantai luar kapal. Untung banget ya panas. Alhasil tangan saya belang sih, kejemur matahari 4-5 jam. Kami berangkat jam 9 pagi, tapi baru sampai di Pulau Pramuka jam 3 sore. Karena saya dan beberapa teman perlu mengkoordinasikan alat di P. Pramuka, saya sendiri baru sampai di P. Karya jam 4.45 sore.


Acara (1/2)
Nah, untuk acaranya sendiri, seru banget sih sebenarnya! Pengambilan sampah di bawah laut dilakukan dalam satu kali penyelaman saja. Mungkin karena grup saya open water semua, instruktur kami terus menerus menekankan pentingnya keamanan penyelaman di atas pemulungan sampah. Misi utama kami adalah menjaga keselamatan kami sendiri; sampah itu nomor dua. Deg-degan juga kan, apalagi saya belum pernah memulung sampah.

Tapi, kalau
ngomongin acara, nggak lengkap dong ya kalau di tulisan pendek begitu. Banyak deh yang bisa diceritain! Mulai dari teknik ngambil, bawa kantongnya, sampah yang umum ditemui, hasil mulung, sampai pemilahan. Saya akan lanjutkan di tulisan selanjutnya, ya! Jangan sampai ketinggalan!

Sunday, April 30, 2017

Tips dari Nanda: Yuk Jadi #KonsumenCerdas Jasa Pesan Antar Ramah Lingkungan!

Mengubah gaya hidup menjadi #ZeroWaste ternyata menyimpan berbagai pengalaman mengasyikkan. Saya sendiri terpaksa memulai gaya hidup ini semenjak memegang kasus uji materiil terhadap sebuah peraturan yang mempercepat pembangunan proyek-proyek insinerator di tujuh daerah. Berawal dari argumen-argumen melawan pembakaran sampah, kelompok ini kemudian memajukan sebuah solusi pengelolaan sampah yang berorientasi meminimalisir timbulan sampah, yang disebut #ZeroWaste. Sebagai anak hukum yang tadinya hanya berstatus tim hukum, saya terjebak ke rentetan perubahan-perubahan personal agar #ZeroWaste dapat terwujud – atau setidaknya lebih banyak dianut banyak individu.

Tulisan ini tidak akan menceritakan pengalaman saya, melainkan pengalaman seorang teman saya yang karena inisiatifnya sendiri mulai membiasakan diri mengubah kebiasaan-kebiasaan sehari-hari yang menimbulkan sampah menjadi #ZeroWaste.

Nanda Sihombing, mantan rekan yang kemudian menjadi salah satu teman saya yang paling gesrek, seorang dara Katab yang sinamotnya bernilai milyaran ratusan juta rupiah (bisa nego). Sebagai puteri Batak sejati, ketika ingin melakukan sesuatu, Nanda akan all out dalam daya upayanya. Tulisan ini didedikasikan sebagai dokumentasi argumen-argumen berharga Nanda sebagai #KonsumenCerdas, yang tidak bisa melepaskan diri dari jasa pengantaran makanan, namun mengoptimalkan posisinya sebagai konsumen untuk menuntut, memprotes dan menyarankan perubahan-perubahan yang berorientasi #ZeroWaste kepada restoran-restoran tempat ia mencari makanan. Sebagaimana kita semua alami, salah satu tantangan Nanda dalam meminimalisir timbulan sampahnya adalah order pesan antar makanan. “Kalau pesan antar, banyak banget sendok plastik dan styrofoam-nya!” ujar Nanda.

Alhasil, Nanda senantiasa meminta kepada provider jasa pesan antar untuk tidak menyertakan sendok plastik dan styrofoam. “Tapi suka khilaf juga kalau lagi lapar dan lupa request,” akunya.

Jika terpaksa memesan makanan yang dibungkus dengan styrofoam, atau baru pertama kali memesan dan ternyata tidak diberikan pilihan no-styrofoam, Nanda akan mengoptimalkan fitur review atau pengulasan yang ada di situs-situs ulasan restoran untuk meminta perusahaan mengubah kebijakan pembungkusan makanannya, yang mana favorit Nanda adalah Zomato. Coba saja klik profil Nanda di Zomato, dan mungkin anda akan menemukan serangkaian komplain Nanda terharap restoran yang boros kemasan atau mengemas makanan secara tidak ramah lingkungan. Setidaknya, satu protes Nanda membuahkan hasil!

“Aku pernah lho di Zomato mengomentari ke restoran, aku bilang kalau pesan antar jangan styrofoam tapi boks kotak kertas biasa saja biar ramah lingkungan. Ternyata ditindaklanjuti!” ujar Nanda girang. Dua minggu setelah ia memasukkan komentarnya, Nanda mengorder makanan lagi, dan ternyata restoran tersebut sudah menggunakan boks kertas. Restoran tersebut adalah sebuah kedai masakan Turki di Kemang yang bernama Warung Turki by Turkuaz.

Tapi, tidak semuanya membuahkan hasil manis. Contohnya, Anomali Coffee, yang menurut Nanda “bisa menjadi pemimpin agen perubahan, mendukung ekonomi lokal dan go green!” Namun, Nanda dikecewakan Anomali karena kebijakan warung kopi tersebut, yang menyajikan kopi dan the dingin dalam plastik, sekalipun untuk minum di tempat. “Aku kan langganan Anomali setiap akhir minggu, ngerjain tugas. Terus aku kirim surel ke managernya, bilang kalau es kopi dan es the mereka itu nggak make sense pakai plastik semua meskipun minum di tempat!” Namun, sayangnya surel Nanda tidak ditanggapi oleh manager Anomali. “Malahan, muka aku dihafal sama semua karyawannya!” canda Nanda sambil tertawa. Nanda menambahkan, meskipun Anomali memiliki promo potongan Rp 5.000,- kalau bawa Tumblr sendiri, potongan tersebut sangat sulit mendapatkan respon untuk pesan antar. “Aku cuma sukses pesan Anomali satu kali dengan Tumblr,” lanjut Nanda.

Cara ini diakui Nanda cukup efektif, dan cukup mudah implementasinya. “Kadang kan pesenan minum aku suka dikasih plastik, tuh. Aku biasanya ngomel. Dengan sedikit ancaman online review biasanya mereka nurut. Kali berikutnya aku datang [pesan], mereka akan menghindari pakai sedotan plastik,” ujarnya. Sehari-hari, Nanda memang menggunakan sedotan stainless steel untuk menggantikan sedotan plastik. “Aku berhenti pakai sedotan plastik setelah lihat video penyu yang hidungnya kena sedotan,” ucapnya sedih.

Selain memanfaatkan fitur ulasan, utamanya Nanda mengoptimalkan penggunaan kotak makanan dan tumblr untuk pembelian makan siang dan jus di sekitar kantornya. “Kalau beli jus aku bawa Tumblr sendiri! Nggak pake sedotan juga. Temen aku pun kalau nitip aku kasih syarat nggak boleh diplastikin,” ujar Nanda. Hal ini, menurutnya, juga merupakan trik, “Karena aku nggak ambilin sedotan plastik, jadi teman-teman nitip ke aku kalau kepepet aja,” ujarnya girang. Selain Tumblr, Nanda juga mengoptimalkan fungsi tempat makanan yang tersedia di kantor untuk memesan makan siang.

Jadi, untuk teman-teman yang tidak bisa melepaskan diri dari jasa pesan antar makanan, cara Nanda ternyata bisa kita coba juga nih. Sebagai #KonsumenCerdas, kita bisa mencoba memanfaatkan fitur ulasan di website, atau seperti Nanda, meminta penyedia jasa untuk meminimalisir praktek-praktek tidak ramah lingkungan dalam pembungkusan makanan. Mencantumkan “jangan pakai styrofoam yaa!” atau “tolong tidak perlu sertakan sendok plastik / sedotan plastik” dalam detail pesanan tidak sulit, kan?

Yuk kita coba jadi #KonsumenCerdas seperti Nanda! Kalau kamu punya pengalaman serupa, tulis dong ulasan tuntutan #ZeroWaste kamu di fitur komentar!

Sunday, April 23, 2017

Surat Gembala Hari Bumi

Pertama kali dalam sejarah saya ke gereja surat gembala berbicara tentang data kerusakan bumi. 

Pertama kali saya mendengar biosfer dan troposfer, dan stratosfer disebut dalam kotbah. Meskipun masih mencampurbaurkan lubang ozon dan perubahan iklim. Pertama kali ensiklik mengkarakterisasikan kerusakan alam, termasuk perubahan iklim, sebagai pemberontakan alam karena keserakahan manusia. Pertama kali ensiklik paus seberani itu menyatakan, "Jika manusia tidak melakukan tanggungjawabnya merawat alam, maka manusia akan punah." 

Bahkan, gereja memberikan saran bagi umatnya untuk merespon. Pertama, gereja meminta umat untuk melakukan satu level di atas gerakan menaruh sampah pada tempatnya, tapi juga memilah sampah. Lalu mengurangi pemakaian plastik dan styrofoam. Ketiga, sine ekologis, menghitung jejak karbon kita. Keempat, bekerjasama dengan sdr/i kt dengan keprihatinan yang sama. Kelima, dan utamanya, memulai dari diri sendiri tanpa menunda.

Sebagai umat Katolik yang juga pekerja lingkungan, saya bangga. Sudah lama saya berharap institusi keagamaan menggaungkan isu lingkungan. Dan dengan kepemimpinan Paus Fransiskus, hal itu terwujud. Ibu Bumi memanggil, dan gereja pun memanggil. Mungkin, dalam waktu dekat, saya akan kembali bergabung. 

Friday, March 17, 2017

Indian Pale Ale, Nostalgia Keberagaman Bir Pasifik Barat Laut



Sebagian besar orang, peminum ataupun bukan, yang berkunjung ke bagian barat laut pantai barat Amerika Serikat akan terpesona dengan keanekaragaman birnya. Bagian ini, yang dikenal sebagai Pacific Northwest, mencakup negara bagian Washington (Seattle) dan Oregon (Portland), memiliki berbagai jenis bir yang dibuat industri rumahan, dengan resep-resep tradisional maupun eksperimental dengan nama dan jenis yang sangat beragam jika dibandingkan dengan bir-bir industri skala besar. Terlebih lagi bagi orang Indonesia, yang hanya mengenal dua jenis bir: pilsner (sebagaimana kita bisa lihat ditulis “pilsener” di merk Bir Bintang) dan stout (sederhananya, bir hitam, misalnya Anker Stout atau Guiness Stout), tentu keberagaman bir ini sangat mencengangkan! Mau tahu seberapa beragam bir itu sebenarnya? Lihatlah bagan taksonomi bir di bawah, dan beritahu saya jika kamu tidak terpesona!

Sumber: http://www.businessinsider.co.id/different-types-of-beer-2014-12/?r=US&IR=T

Sebagai bocah yang penasaran dengan semua hal, saya merupakan jenis orang yang sangat kegirangan ketika berada dalam arena keberagaman bir Pasifik Barat Laut ini. Sekalipun hanya menghabiskan waktu setahun di Portland, Oregon, saya merasa cukup puas dengan peningkatan pengetahuan saya mengenai bir ketika saya berada di sana. Portland merupakan sebuah kota hipster, unik dan aneh, dengan berbagai industri bir rumahan dan bar keren yang menjamur di seantero kota. Dengan bantuan aplikasi Yelp, saya melakukan riset kecil bar-bar terkeren di Portland dan mengunjunginya satu per satu. Patutlah saya berterima kasih kepada selusinan couchsurfers yang mampir di rumah sewaan saya di Portland, yang menemani saya menjajal bar keren ini satu per satu, bahkan terkadang memberikan saya referensi bar yang saya tidak ketahui.

Tapi, anyway, bintang tamu kita kali ini bukanlah bar-bar keren Portland, tapi bir kesukaan mayoritas penduduk Portland, yang kebetulan juga populer di seantero Pasifik Barat Laut: Indian Pale Ale, atau populer dengan nama IPA.

Salah satu bar Oregon yang menawarkan berbagai jenis IPA - Breakside. Sumber: http://brewpublic.com
Yang membedakan Indian Pale Ale (IPA) dengan bir-bir lain adalah citarasa hops yang cukup kuat, yang memberikan sensasi rasa pahit dengan wangi yang khas dan rasa unik yang kuat. Hops merupakan salah satu bahan baku bir, yang takaran dan komposisinya dengan bahan lain - malt, ragi dan air, berbeda-beda untuk tiap resep bir. Dalam konteks IPA, resepnya menggunakan hops dengan takaran yang cukup banyak. Hops sendiri, sebagai sepupu cannabis sativa, tentu memberikan sensasi nyaman, agak pusing dan girang yang cenderung lebih tinggi jika ditambahkan dalam kadar yang lebih banyak. Hal ini tidak selalu paralel dengan tingginya kadar alkohol - kadar alkohol IPA sendiri berkisar antara 5-12%, namun meminum IPA 5% tentu berbeda dengan meminum pilsner 5%. Karena itulah IPA cenderung lebih cepat membuat tipsy, walaupun sebagaimana bir pada umumnya, butuh IPA dalam jumlah yang sangat banyak untuk memabukkan seseorang.

Rogue adalah salah satu merk bir skala medium yang terkenal di Oregon. Sumber: http://www.rogue.com

Keberangkatan seorang teman ke kota dekat kota saya bersekolah dulu baru-baru inilah yang membuat saya girang. Ketika Dodo berangkat ke Eugene, ingin rasanya saya menitipkan satu koper untuk diisi secara eksklusif dengan dua lusin bir, khususnya IPA. Seperti kalian bisa lihat, IPA sendiri ada berbagai jenis lho! Pada dasarnya, bir yang menggunakan resep dengan kombinasi hops yang berbeda (jumlah, jenis atau campurannya) akan menghasilkan citarasa yang berbeda pula. Di Oregon, yang iklimnya cocok untuk bertanam berbagai jenis hops, dengan musim panas yang mengalami paparan sinar matahari lebih dari 15 jam, terdapat banyak kombinasi hops yang bisa diracik dalam berbagai resep IPA.

Hal ini kontras dengan Indonesia, di mana matahari terbit dan tenggelam dalam jangka waktu 12 jam - relatif sama di semua musim. Dengan paparan sinar matahari kurang dari 15 jam / hari, hops tidak bisa tumbuh. Lebih lagi, budaya Indonesia yang kehilangan kearifan lokalnya mengenai alkohol pasca masuknya Islam; yang berimbas pada tingginya pajak alkohol sekarang, merupakan faktor yang menyebabkan rendahnya tingkat kreativitas para pembuat bir di Indonesia. Dengan rendahnya tingkat kreativitas, pasar pun tidak terbiasa dengan berbagai citarasa bir. Alhasil, orang Indonesia cenderung menganggap citarasa IPA yang pahit dengan bau herbal yang khas bercitarasa aneh, terlalu mendobrak.

Bagi yang telah mengenal indahnya IPA, Indonesia memang bukan kenyataan pahit yang harus dihadapi. Di Jakarta, cukup sulit buat saya menemukan IPA yang enak. Coffeebeerian dulu menawarkan IPA yang rasanya lumayan, namun karena orang Indonesia tidak begitu menyukainya, menu tersebut tidak pernah ditambah lagi stoknya. Pilihan lainnya akhirnya jatuh pada Brewerkz, sebuah produsen bir mikro dengan bar di Senayan City, yang memiliki pilihan bir yang cukup enak. Setidaknya, untuk perindu IPA, bisa lah mengobati rindu. Sayangnya, harga bir di Brewerkz ini relatif mahal - sekitar Rp 60.000,- - Rp 150.000,- per gelasnya.

Bukan promosi! Sumber: http://scontent.cdninstagram.com
Akhir cerita, Dodo membawakan saya sebotol IPA saja -- tapi sebotol yang membuat saya super kegirangan: Watershed IPA dari Oakshire Brewery. Menjadi spesial karena di kantor saya mengerjakan isu pencemaran air, dan erat berhubungan dengan daerah aliran sungai (watershed). Meminumnya, rasanya sungguh nostalgik - pahit, kental, tajam; membuat saya baru sadar bahwa IPA di Indonesia belum ada apa-apanya. Minum setengah botol saja, saya sudah cukup happy -- jauh beda dengan bir Indonesia (misal, Bintang atau Anker) yang hanya membuat kembung saja. Tapi, seperti saya duga, anak-anak kantor lainnya nggak ada yang suka bir ini. Wajar sekali sih bagi peminum pertama nggak langsung suka.

Thank you Dodo! You're the bessst :*
 Anyway -- siapapun yang pergi ke Oregon, dengan senang hati saya akan titipi IPA apabila kalian tidak keberatan dan tidak akan memanfaatkan jatah alkohol kalian. Lawyers, saya perlu advis nih berapa jumlah bir maksimal yang bisa dibawa dalam satu koper! Kalau ada yang bisa memberitahukan, kabarin yaaa! Nanti aku bagi :)

CIUM BAU BIR MWAH :*