Sunday, April 23, 2017

Surat Gembala Hari Bumi

Pertama kali dalam sejarah saya ke gereja surat gembala berbicara tentang data kerusakan bumi. 

Pertama kali saya mendengar biosfer dan troposfer, dan stratosfer disebut dalam kotbah. Meskipun masih mencampurbaurkan lubang ozon dan perubahan iklim. Pertama kali ensiklik mengkarakterisasikan kerusakan alam, termasuk perubahan iklim, sebagai pemberontakan alam karena keserakahan manusia. Pertama kali ensiklik paus seberani itu menyatakan, "Jika manusia tidak melakukan tanggungjawabnya merawat alam, maka manusia akan punah." 

Bahkan, gereja memberikan saran bagi umatnya untuk merespon. Pertama, gereja meminta umat untuk melakukan satu level di atas gerakan menaruh sampah pada tempatnya, tapi juga memilah sampah. Lalu mengurangi pemakaian plastik dan styrofoam. Ketiga, sine ekologis, menghitung jejak karbon kita. Keempat, bekerjasama dengan sdr/i kt dengan keprihatinan yang sama. Kelima, dan utamanya, memulai dari diri sendiri tanpa menunda.

Sebagai umat Katolik yang juga pekerja lingkungan, saya bangga. Sudah lama saya berharap institusi keagamaan menggaungkan isu lingkungan. Dan dengan kepemimpinan Paus Fransiskus, hal itu terwujud. Ibu Bumi memanggil, dan gereja pun memanggil. Mungkin, dalam waktu dekat, saya akan kembali bergabung. 

Friday, March 17, 2017

Indian Pale Ale, Nostalgia Keberagaman Bir Pasifik Barat Laut



Sebagian besar orang, peminum ataupun bukan, yang berkunjung ke bagian barat laut pantai barat Amerika Serikat akan terpesona dengan keanekaragaman birnya. Bagian ini, yang dikenal sebagai Pacific Northwest, mencakup negara bagian Washington (Seattle) dan Oregon (Portland), memiliki berbagai jenis bir yang dibuat industri rumahan, dengan resep-resep tradisional maupun eksperimental dengan nama dan jenis yang sangat beragam jika dibandingkan dengan bir-bir industri skala besar. Terlebih lagi bagi orang Indonesia, yang hanya mengenal dua jenis bir: pilsner (sebagaimana kita bisa lihat ditulis “pilsener” di merk Bir Bintang) dan stout (sederhananya, bir hitam, misalnya Anker Stout atau Guiness Stout), tentu keberagaman bir ini sangat mencengangkan! Mau tahu seberapa beragam bir itu sebenarnya? Lihatlah bagan taksonomi bir di bawah, dan beritahu saya jika kamu tidak terpesona!

Sumber: http://www.businessinsider.co.id/different-types-of-beer-2014-12/?r=US&IR=T

Sebagai bocah yang penasaran dengan semua hal, saya merupakan jenis orang yang sangat kegirangan ketika berada dalam arena keberagaman bir Pasifik Barat Laut ini. Sekalipun hanya menghabiskan waktu setahun di Portland, Oregon, saya merasa cukup puas dengan peningkatan pengetahuan saya mengenai bir ketika saya berada di sana. Portland merupakan sebuah kota hipster, unik dan aneh, dengan berbagai industri bir rumahan dan bar keren yang menjamur di seantero kota. Dengan bantuan aplikasi Yelp, saya melakukan riset kecil bar-bar terkeren di Portland dan mengunjunginya satu per satu. Patutlah saya berterima kasih kepada selusinan couchsurfers yang mampir di rumah sewaan saya di Portland, yang menemani saya menjajal bar keren ini satu per satu, bahkan terkadang memberikan saya referensi bar yang saya tidak ketahui.

Tapi, anyway, bintang tamu kita kali ini bukanlah bar-bar keren Portland, tapi bir kesukaan mayoritas penduduk Portland, yang kebetulan juga populer di seantero Pasifik Barat Laut: Indian Pale Ale, atau populer dengan nama IPA.

Salah satu bar Oregon yang menawarkan berbagai jenis IPA - Breakside. Sumber: http://brewpublic.com
Yang membedakan Indian Pale Ale (IPA) dengan bir-bir lain adalah citarasa hops yang cukup kuat, yang memberikan sensasi rasa pahit dengan wangi yang khas dan rasa unik yang kuat. Hops merupakan salah satu bahan baku bir, yang takaran dan komposisinya dengan bahan lain - malt, ragi dan air, berbeda-beda untuk tiap resep bir. Dalam konteks IPA, resepnya menggunakan hops dengan takaran yang cukup banyak. Hops sendiri, sebagai sepupu cannabis sativa, tentu memberikan sensasi nyaman, agak pusing dan girang yang cenderung lebih tinggi jika ditambahkan dalam kadar yang lebih banyak. Hal ini tidak selalu paralel dengan tingginya kadar alkohol - kadar alkohol IPA sendiri berkisar antara 5-12%, namun meminum IPA 5% tentu berbeda dengan meminum pilsner 5%. Karena itulah IPA cenderung lebih cepat membuat tipsy, walaupun sebagaimana bir pada umumnya, butuh IPA dalam jumlah yang sangat banyak untuk memabukkan seseorang.

Rogue adalah salah satu merk bir skala medium yang terkenal di Oregon. Sumber: http://www.rogue.com

Keberangkatan seorang teman ke kota dekat kota saya bersekolah dulu baru-baru inilah yang membuat saya girang. Ketika Dodo berangkat ke Eugene, ingin rasanya saya menitipkan satu koper untuk diisi secara eksklusif dengan dua lusin bir, khususnya IPA. Seperti kalian bisa lihat, IPA sendiri ada berbagai jenis lho! Pada dasarnya, bir yang menggunakan resep dengan kombinasi hops yang berbeda (jumlah, jenis atau campurannya) akan menghasilkan citarasa yang berbeda pula. Di Oregon, yang iklimnya cocok untuk bertanam berbagai jenis hops, dengan musim panas yang mengalami paparan sinar matahari lebih dari 15 jam, terdapat banyak kombinasi hops yang bisa diracik dalam berbagai resep IPA.

Hal ini kontras dengan Indonesia, di mana matahari terbit dan tenggelam dalam jangka waktu 12 jam - relatif sama di semua musim. Dengan paparan sinar matahari kurang dari 15 jam / hari, hops tidak bisa tumbuh. Lebih lagi, budaya Indonesia yang kehilangan kearifan lokalnya mengenai alkohol pasca masuknya Islam; yang berimbas pada tingginya pajak alkohol sekarang, merupakan faktor yang menyebabkan rendahnya tingkat kreativitas para pembuat bir di Indonesia. Dengan rendahnya tingkat kreativitas, pasar pun tidak terbiasa dengan berbagai citarasa bir. Alhasil, orang Indonesia cenderung menganggap citarasa IPA yang pahit dengan bau herbal yang khas bercitarasa aneh, terlalu mendobrak.

Bagi yang telah mengenal indahnya IPA, Indonesia memang bukan kenyataan pahit yang harus dihadapi. Di Jakarta, cukup sulit buat saya menemukan IPA yang enak. Coffeebeerian dulu menawarkan IPA yang rasanya lumayan, namun karena orang Indonesia tidak begitu menyukainya, menu tersebut tidak pernah ditambah lagi stoknya. Pilihan lainnya akhirnya jatuh pada Brewerkz, sebuah produsen bir mikro dengan bar di Senayan City, yang memiliki pilihan bir yang cukup enak. Setidaknya, untuk perindu IPA, bisa lah mengobati rindu. Sayangnya, harga bir di Brewerkz ini relatif mahal - sekitar Rp 60.000,- - Rp 150.000,- per gelasnya.

Bukan promosi! Sumber: http://scontent.cdninstagram.com
Akhir cerita, Dodo membawakan saya sebotol IPA saja -- tapi sebotol yang membuat saya super kegirangan: Watershed IPA dari Oakshire Brewery. Menjadi spesial karena di kantor saya mengerjakan isu pencemaran air, dan erat berhubungan dengan daerah aliran sungai (watershed). Meminumnya, rasanya sungguh nostalgik - pahit, kental, tajam; membuat saya baru sadar bahwa IPA di Indonesia belum ada apa-apanya. Minum setengah botol saja, saya sudah cukup happy -- jauh beda dengan bir Indonesia (misal, Bintang atau Anker) yang hanya membuat kembung saja. Tapi, seperti saya duga, anak-anak kantor lainnya nggak ada yang suka bir ini. Wajar sekali sih bagi peminum pertama nggak langsung suka.

Thank you Dodo! You're the bessst :*
 Anyway -- siapapun yang pergi ke Oregon, dengan senang hati saya akan titipi IPA apabila kalian tidak keberatan dan tidak akan memanfaatkan jatah alkohol kalian. Lawyers, saya perlu advis nih berapa jumlah bir maksimal yang bisa dibawa dalam satu koper! Kalau ada yang bisa memberitahukan, kabarin yaaa! Nanti aku bagi :)

CIUM BAU BIR MWAH :*






Sunday, March 12, 2017

#WeekendTanpaMall: Camp Herpetofauna 2017



Sabtu-Minggu ini saya mengikuti kegiatan yang agak tidak lazim diikuti anak hukum, non-hobiis, bukan pegadang, dan bukan pula ilmuwan. Berawal dari poster lucu yang diteruskan Isna dan Wenni dari geng konservasinya, saya mendaftarkan diri mengikuti Camp Herpetofauna di Gunung Pancar. Tanpa pikir panjang, saya yang bahkan tidak tahu apa itu herpetofauna langsung mendaftar. Pikir saya, lucu juga nih ke Gunung Pancar murah meriah, lalu belajar dari narsum-narsum yang kayaknya keren-keren (walaupun saya juga nggak tahu satupun orang-orangnya), dapat pengetahuan baru plus teman-teman baru, plus yang paling penting, main ke gunung dan menghindari akhir minggu terbuang sia-sia.

Dan di situlah saya sedari kemarin hingga tadi pagi, tanpa  sinyal, tanpa laptop: Camp Herpetofauna 2017. Paling tidak, ilmu pertama yang dapat saya amalkan ke manusia-manusia awam sekalian adalah… H-1 saya akhirnya tahu apa itu herpetofauna! Intinya, hewan yang perutnya menempel di tanah (atau permukaan di mana mereka berpijak), yang kalau dalam pengelompokan ilmiah simpelnya kita kenal sebagai reptil dan amfibi. Merayap, melompat, terbang, pokoknya kalau nempel ke tanah, itu masuk ke herpetofauna.

Hal lain yang saya baru ketahui kemudian adalah… Ternyata cukup banyak dan cukup niat juga ya penggemar reptil dan amfibi Indonesia. Acara yang tadinya saya kira berisi anak-anak haha hihi semacam saya dan Isna (keduanya anak hukum, datang tanpa ekspektasi dan tidak pernah punya pengalaman apapun dengan reptil dan amfibi), ternyata diisi para hobiis, pengembangbiak, calon ilmuwan, dan calon praktisi (dokter) herpetofauna dari berbagai tempat. Tidak hanya dari Jakarta dan sekitarnya lho – para peserta dari Cirebon, Sukabumi, Bandung, Jogjakarta, Pontianak, bahkan Ketapang! Bahkan, saya bertemu satu anak gadis yang terbang sendiri (dengan inisiatif dan biaya sendiri) dari Pontianak untuk mengikuti acara ini.

Jadi, acara apa sih ini sebenarnya? Kalau bahasa kerennya, #CampHerp2017 ini adalah forum capacity building yang dibuat dengan metode semenarik mungkin – memadukan paparan para ahli beken, praktek di lapangan serta pembelajaran secara aktif. Cie elah. Ya kira-kira begitulah. Seperti tadi saya bilang, ada beberapa pembicara beken ya, ini nih nama-namanya, kepoin deh, ternyata beneran beken lho. Ada yang dapat hibah NatGeo dan bikin aplikasi citizen science untuk pemantauan herpetofauna (Ibu Mirza “Miki” Kusrini), ada yang mbah-nya pengembangbiakan ular (dan beberapa reptil lain) (Paul Ryan), ada ilmuwan kenamaan yang semacam bank data herpetofauna dan punya akses hingga ke DNA mereka (Pak Amir), ada yang ahli penanganan gigitan ular (Bu Tri), ada dokter hewan yang (konon) paling paham reptil (Pak Slamet) dan sebagainya. Nih posternya yang bikin saya dan Isna tergiur.


Dari enam set materi (plus satu observasi lapangan) yang kami dapatkan, yang paling berkesan buat saya tentu saja herping (herpetofauna monitoring) itu sendiri! Malam-malam, kami disuruh ke hutan di dekat curug, lalu berjalan sesuai dengan trek yang ditentukan, dan… mencari kodok! Yaaa, nggak cuma kodok sih, ada juga katak, kadal, cicak, bahkan ular. Ada tujuh kelompok dengan trek yang berbeda-beda – dan apesnya, kami dapat trek yang point start-nya paling jauh.

Naaaah, dari trip singkat ini, sebagai orang awam sejati yang nggak tahu bedanya katak sama kodok dalam kehidupan nyata, saya bisa berbagi tips buat kalian kalau ada temannya yang ngajak herping:
  1. Herping itu basically melakukan survey mengenai amfibi dan reptil apa saja yang ada di lokasi tertentu pada saat periode survey tertentu. Prakteknya, ini akan melibatkan (a) pendokumentasikan (baik dengan kamera maupun mencatat) amfibi/reptil yang ditemui; (b) mengambil / menangkap sementara reptil / amfibi yang ditemui untuk diidentifikasi lebih lanjut (yessss, kamu akan menangkap, memegang, dan mengambil kodok!); (c) mengidentifikasi amfibi / reptil yang kamu temukan dan melaporkannya sesuai dengan format (a.l. mencakup lokasi penemuan dalam parameter jarak dari sungai dan tinggi dari tanah saat hewan ditemukan; aktivitasnya saat itu; panjang tubuh, dll). Nantinya, ketika sudah selesai diidentifikasi dan dicatat, kita akan mengembalikan reptil itu ke alam liar. Maka itu, dalam herping, kita harus membawa peralatan yang cukup untuk memastikan si reptil ataupun amfibi yang kita “pinjam” dari alam bisa tetap hidup dan tenang selama dalam masa peminjaman;
  2. Dresscode: Pakai celana panjang dan hindari baju yang mencolok. Kalau nggak salah sih ini termasuk standar kemananan terkait dengan perilaku reptil/amfibinya, tapi saya lupa kenapa persisnya. Kedua, yang jauh lebih penting – sebaiknya pakai sepatu boots – as in, rainboots atau boots kebun (itu, yang kayak dipakai kuli-kuli sawit gitu) karena kita akan susur a.k.a. nyebur ke sungai. Bukan cuma loncat-loncat cantik dari batu ke batu ya. Jadi, kalau pakai sepatu, udah pasti akan basah.
  3. Herping dilakukan pada jam-jam tertentu. Berdasarkan catatan saya, sekitar jam 8-10 pagi dan jam 6-9 malam. Waktu kami herping sih telat banget, jam 11 baru mulai jalan. Nah, konon kata orang lokal, jam segini ular udah pada masuk. Tapi kodok, katak sama kadal masih ada sih.
Overall, it was so much fun! Noh beberapa spoilernya:

Quino berani megang cicak batu YAAWLOH

Ular hasil tangkapan herping. Yang nangkep harus yang berpengalaman ya! Dan pakai hook! 


Banyak anak-anak bertalenta ajaib nih! 

Skill spotting amfibi/reptil: NOL

Yang jelas, Quina sekarang sudah bisa megang kodok tanpa takut. Belum praktek sih kalau di alam, tapi tadi kalau dari kantong udah bisa kok. Demikianlah sekilas laporan awal Camping Herpetofauna 2017. Detilnya nanti yaaa, biar misterius-misterius gitu deh, dan biar pembaca pada kangen dan penasaran gitu kan sama aku (sambil kedip-kedip).

Friday, February 17, 2017

Mencari Partikulat, Berkencan dengan Laser Egg



Beberapa hari ini saya punya buntut baru, namanya laser egg. Benda yang lucu yang saya pinjam dari Greenpeace Indonesia pasca mereka meluncurkan aplikasi pemantauan kualitas udara bernama “Udara Kita.” Laser egg yang saya bawa (dan saya namai Si Telur) kebetulan hanya mampu mendeteksi debu, atau nama lainnya partikulat matter (PM). Debu sendiri terbagi beberapa jenis, ada yang besarnya lebih dari 10µm (TSP); ada yang kurang dari sama dengan 10µm (PM 10); dan partikel halus yang berukuran kurang dari sama dengan 2,5 µm (PM 2.5). Untuk pengantar singkat mengenai signifikansi perbedaan ukuran ini, silakan cek jawaban di Quora berikut. Untuk membayangkan seberapa kecil masing-masing debu, silakan lihat gambar di bawah. Singkat cerita, makin kecil ukuran debu, makin besar tingkat kebahayaannya. Soalnya, ia bisa masuk semakin dalam ke dalam sistem pernafasan. 

Si Telur mampu mendeteksi debu dan menampilkan kadar debu di udara dalam 4 bentuk: Air Quality Index (AQI) China; AQI USA; jumlah partikel; dan baku mutu udara ambient (dalam satuan µg/m3). Namun, yang ia tampilkan hanya PM 2.5. Kenapa alat ini yang dipilih? Karena, justru PM 2.5 lah yang kerap luput dipantau oleh pemerintah. Padahal, dari sisi kebahayaan, secara medis konsentrasi PM 2.5 yang terlalu tinggi di udara sudah terbukti dapat menyebabkan berbagai gangguan pernafasan akut (misal ISPA) dan kronik (misal asma, bronkitis, dan penyakit paru obstruktif kronik); selain itu, pencemaran udara oleh PM 2.5 dapat menyebabkan sakit jantung, stroke, serta kematian dini. Inilah yang tidak diketahui banyak orang. Sebagai anak kota, kesehatan kita jauh lebih rentan lho, karena udara yang kita hirup setiap hari ternyata sangat signifikan pengaruhnya terhadap kesehatan – dan umur – kita.


Saya membawa Si Telur untuk misi Bond 007 – alias misi rahasia. Namun, ada beberapa hal yang bisa saya ceritakan kepada kalian, terutama jika kalian berminat mengunduh aplikasi Udara Kita atau membeli laser egg sendiri. Kebetulan mobilitas saya cukup tinggi saat membawa Si Telur ini, yaitu dari selatan Bali (bandara) menuju ke utara nan segar; baik di perkampungan ataupun di jalan raya, baik di dalam rumah maupun di luar rumah. Sebagai patokan, biasanya saya melihat indeks AQI USA. Ingin tahu bagaimana bentuk indeks AQI USA?


Inilah beberapa pelajaran yang bisa saya petik dalam beberapa hari kebersamaan bersama si telur.

1. Nggak semua debu bisa kita rasakan.

Beberapa partikulat halus bisa kita rasakan sensasi mencekiknya dengan jelas, misal, knalpot yang mengepulkan asap, sumber pembakaran terbuka seperti sampah/BBQ, asap rokok, dll. Dalam radius dekat dengan sumber pencemar tersebut, Si Telur jelas bereaksi – dan reaksinya lebay, bisa sampai angka ideks 500 (sangat berbahaya / indikator warna hitam). Tapi, ada waktu-waktu di mana saya dan rekan tidak merasakan atau melihat apapun, namun angka indeks meningkat pesat sampai pada level tidak sehat bagi grup sensitif atau sangat tidak sehat (bagi grup manapun). Kebetulan, di tempat kami meletakkan si telur, memang terdapat sumber pencemar yang terus beroperasi 24 jam (dalam skala yang berbeda-beda). Dan dari hasil ngobrol ngalor ngidul kami dengan beberapa warga lokal, kebanyakan dari mereka justru mengungkapkan keluh kesah terkait dengan debu (TSP) yang kasat mata, bikin kotor namun kebahayaannya tidak sesignifikan PM 2.5.

Artinya, memang ada gap “rasa” dalam mengapresiasi PM 2.5 di sini – ia tidak selalu terlihat, tidak selalu terasa, tidak selalu berbau; namun ia ada. Seperti kamu dalam hatiku. Apasih, Quin, okelah kembali ke debu. Jadi, perlu dikritisi ya lagunya the Massive, aku tanpamu butiran debu – debunya TSP, PM 10, PM 2.5 atau bahkan nanopartikel? Kalau dua yang terakhir, artinya kamu sangat signifikan! (Mohon maaf atas kesimpulan yang ngelantur ini)


2. Udara dalam ruangan kita bukan tanpa masalah!

Salah satu fakta mengejutkan yang saya pelajari dari Si Telur adalah betapa udara di dalam ruangan bisa begitu keji dibandingkan dengan rekannya di luar. Ada masanya selama saya melakukan pengukuran di luar ruangan hasilnya baik-baik saja; namun begitu dibawa masuk ruangan, Si Telur bereaksi. Lalu, ada satu ruangan yang tercium bau debunya, di situ Si Telur langsung menunjukkan angka 170-an atau berbahaya (bagi semua grup). Yang paling mengejutkan, pagi ini, saat saya bangun tidur di resort cantik ber-AC dengan pintu tertutup, Si Telur menunjukkan indikator berbahaya bagi grup sensitif!

Sebagai orang kota yang menghabiskan sebagian besar hidup kita di dalam ruangan, tentu saja jadi was-was. Memang sih Bali berbeda kondisinya dengan Jakarta, karena di Jakarta luar ruangan mungkin terlalu keji. Tapi, Bali yang kondisi luar ruangannya minim debu saja bisa menghasilkan tumpukan debu yang tinggi di dalam ruangan. Nah, nasib Jakarta bagaimana donk? Tentu untuk menjawab kegamangan ini saya harus membawa Si Telur ke kamar-kamar orang, dari yang di lantai bawah hingga nun jauh di atap. Tunggu laporan berikutnya ya!

PS: Oiya, kita belum punya peraturan yang mumpuni lho tentang pencemar udara dalam ruangan – bahkan, level aturan yang menyuruh KLHK/Kemenkes mengedukasi atau memberikan informasi tentang pencemaran udara dalam ruangan. Tanya kenapa, silakan hubungi KLHK.

3. Jika kamu ingin mengukur dampak dari sumber pencemar tertentu, sebaiknya terlebih dulu cari informasi pendahuluan.

Ketika kamu sudah mengetahui kualitas udara di tempatmu, tak dinyanya mungkin kamu mencurigai aktivitas tertentu sebagai penyebab utama tingginya PM 2.5 di tempatmu. Tapi, tunggu dulu, logika berpikirnya tak semudah itu.

Pertama, agar dapat mengukur dengan valid, ada beberapa persyaratan yang harus dipatuhi. Apakah kamu sudah mengukur jauh dari lokasi pembakaran? Kamu yakin kamu menempatkan Si Telur di tempat yang minim debu?
Kedua, apakah kamu sudah tahu sumber-sumber pencemar di sekitarmu? Apakah ada data mengenai perkiraan kontribusi sumber bergerak (misal, kendaraan bermotor) dan sumber tidak bergerak (misal, pabrik)?
Ketiga, apakah kamu memahami perilaku angin dan cuaca di tempatmu? Bertiupnya angin akan sangat mempengaruhi ke mana debu jatuh; dan arah angin ini akan berbeda-beda bergantung musim dan iklim. Selain itu, musim juga berpengaruh – di musim hujan, kemampuan air (dan uap air) untuk “mengencerkan” pencemaran kemungkinan akan menyebabkan hasil pengukuran yang lebih rendah dibandingkan dengan di musim kemarau.
Untuk informasi lebih lanjut, saya juga masih mencari “air pollution investigation for dummies,” atau mungkin perlu ada tim kolaboratif untuk membuatnya ya?

Demikian cerita tentang Si Telur dan tiga kesan utamanya di hati saya dalam beberapa hari ini. Jika kamu ingin menemukan (baca: meminjam) telurmu, coba kontak Greenpeace Indonesia via Twitter/IG.
Selamat mencari udara bersih!