Sunday, March 12, 2017

#WeekendTanpaMall: Camp Herpetofauna 2017



Sabtu-Minggu ini saya mengikuti kegiatan yang agak tidak lazim diikuti anak hukum, non-hobiis, bukan pegadang, dan bukan pula ilmuwan. Berawal dari poster lucu yang diteruskan Isna dan Wenni dari geng konservasinya, saya mendaftarkan diri mengikuti Camp Herpetofauna di Gunung Pancar. Tanpa pikir panjang, saya yang bahkan tidak tahu apa itu herpetofauna langsung mendaftar. Pikir saya, lucu juga nih ke Gunung Pancar murah meriah, lalu belajar dari narsum-narsum yang kayaknya keren-keren (walaupun saya juga nggak tahu satupun orang-orangnya), dapat pengetahuan baru plus teman-teman baru, plus yang paling penting, main ke gunung dan menghindari akhir minggu terbuang sia-sia.

Dan di situlah saya sedari kemarin hingga tadi pagi, tanpa  sinyal, tanpa laptop: Camp Herpetofauna 2017. Paling tidak, ilmu pertama yang dapat saya amalkan ke manusia-manusia awam sekalian adalah… H-1 saya akhirnya tahu apa itu herpetofauna! Intinya, hewan yang perutnya menempel di tanah (atau permukaan di mana mereka berpijak), yang kalau dalam pengelompokan ilmiah simpelnya kita kenal sebagai reptil dan amfibi. Merayap, melompat, terbang, pokoknya kalau nempel ke tanah, itu masuk ke herpetofauna.

Hal lain yang saya baru ketahui kemudian adalah… Ternyata cukup banyak dan cukup niat juga ya penggemar reptil dan amfibi Indonesia. Acara yang tadinya saya kira berisi anak-anak haha hihi semacam saya dan Isna (keduanya anak hukum, datang tanpa ekspektasi dan tidak pernah punya pengalaman apapun dengan reptil dan amfibi), ternyata diisi para hobiis, pengembangbiak, calon ilmuwan, dan calon praktisi (dokter) herpetofauna dari berbagai tempat. Tidak hanya dari Jakarta dan sekitarnya lho – para peserta dari Cirebon, Sukabumi, Bandung, Jogjakarta, Pontianak, bahkan Ketapang! Bahkan, saya bertemu satu anak gadis yang terbang sendiri (dengan inisiatif dan biaya sendiri) dari Pontianak untuk mengikuti acara ini.

Jadi, acara apa sih ini sebenarnya? Kalau bahasa kerennya, #CampHerp2017 ini adalah forum capacity building yang dibuat dengan metode semenarik mungkin – memadukan paparan para ahli beken, praktek di lapangan serta pembelajaran secara aktif. Cie elah. Ya kira-kira begitulah. Seperti tadi saya bilang, ada beberapa pembicara beken ya, ini nih nama-namanya, kepoin deh, ternyata beneran beken lho. Ada yang dapat hibah NatGeo dan bikin aplikasi citizen science untuk pemantauan herpetofauna (Ibu Mirza “Miki” Kusrini), ada yang mbah-nya pengembangbiakan ular (dan beberapa reptil lain) (Paul Ryan), ada ilmuwan kenamaan yang semacam bank data herpetofauna dan punya akses hingga ke DNA mereka (Pak Amir), ada yang ahli penanganan gigitan ular (Bu Tri), ada dokter hewan yang (konon) paling paham reptil (Pak Slamet) dan sebagainya. Nih posternya yang bikin saya dan Isna tergiur.


Dari enam set materi (plus satu observasi lapangan) yang kami dapatkan, yang paling berkesan buat saya tentu saja herping (herpetofauna monitoring) itu sendiri! Malam-malam, kami disuruh ke hutan di dekat curug, lalu berjalan sesuai dengan trek yang ditentukan, dan… mencari kodok! Yaaa, nggak cuma kodok sih, ada juga katak, kadal, cicak, bahkan ular. Ada tujuh kelompok dengan trek yang berbeda-beda – dan apesnya, kami dapat trek yang point start-nya paling jauh.

Naaaah, dari trip singkat ini, sebagai orang awam sejati yang nggak tahu bedanya katak sama kodok dalam kehidupan nyata, saya bisa berbagi tips buat kalian kalau ada temannya yang ngajak herping:
  1. Herping itu basically melakukan survey mengenai amfibi dan reptil apa saja yang ada di lokasi tertentu pada saat periode survey tertentu. Prakteknya, ini akan melibatkan (a) pendokumentasikan (baik dengan kamera maupun mencatat) amfibi/reptil yang ditemui; (b) mengambil / menangkap sementara reptil / amfibi yang ditemui untuk diidentifikasi lebih lanjut (yessss, kamu akan menangkap, memegang, dan mengambil kodok!); (c) mengidentifikasi amfibi / reptil yang kamu temukan dan melaporkannya sesuai dengan format (a.l. mencakup lokasi penemuan dalam parameter jarak dari sungai dan tinggi dari tanah saat hewan ditemukan; aktivitasnya saat itu; panjang tubuh, dll). Nantinya, ketika sudah selesai diidentifikasi dan dicatat, kita akan mengembalikan reptil itu ke alam liar. Maka itu, dalam herping, kita harus membawa peralatan yang cukup untuk memastikan si reptil ataupun amfibi yang kita “pinjam” dari alam bisa tetap hidup dan tenang selama dalam masa peminjaman;
  2. Dresscode: Pakai celana panjang dan hindari baju yang mencolok. Kalau nggak salah sih ini termasuk standar kemananan terkait dengan perilaku reptil/amfibinya, tapi saya lupa kenapa persisnya. Kedua, yang jauh lebih penting – sebaiknya pakai sepatu boots – as in, rainboots atau boots kebun (itu, yang kayak dipakai kuli-kuli sawit gitu) karena kita akan susur a.k.a. nyebur ke sungai. Bukan cuma loncat-loncat cantik dari batu ke batu ya. Jadi, kalau pakai sepatu, udah pasti akan basah.
  3. Herping dilakukan pada jam-jam tertentu. Berdasarkan catatan saya, sekitar jam 8-10 pagi dan jam 6-9 malam. Waktu kami herping sih telat banget, jam 11 baru mulai jalan. Nah, konon kata orang lokal, jam segini ular udah pada masuk. Tapi kodok, katak sama kadal masih ada sih.
Overall, it was so much fun! Noh beberapa spoilernya:

Quino berani megang cicak batu YAAWLOH

Ular hasil tangkapan herping. Yang nangkep harus yang berpengalaman ya! Dan pakai hook! 


Banyak anak-anak bertalenta ajaib nih! 

Skill spotting amfibi/reptil: NOL

Yang jelas, Quina sekarang sudah bisa megang kodok tanpa takut. Belum praktek sih kalau di alam, tapi tadi kalau dari kantong udah bisa kok. Demikianlah sekilas laporan awal Camping Herpetofauna 2017. Detilnya nanti yaaa, biar misterius-misterius gitu deh, dan biar pembaca pada kangen dan penasaran gitu kan sama aku (sambil kedip-kedip).

No comments: